Wednesday, April 8, 2009

Mengenang Anggota Keluarga yang Kucintai

Sore itu saya bersama dengan para Bruder sekomunitas bergegas meluncur ke kota M menuju rumah orang tua saya untuk misa arwah memperingati 1000 hari meninggalnya ayah . Perjalanan lancar meskipun hujan rintik-rintik tiada henti mengiringi perjalanan kami. Tepat pk. 18.00 wib iringan dua mobil sampai juga di rumah yang kami tuju. Setelah beristirahat sejenak, tak lama berselang umat lingkungan segera berdatangan, di susul kemudian para bruder serta para Novis dan Postulan dari Komunitas Muntilan. Tepat pk. 19.00 wib ketua lingkungan memberikan sambutan dan pengantar sebelum perayaan Ekaristi dimulai. Perayaan ekaristi dipimpin oleh Romo Servasius Samuel yang sengaja saya datangkan dari Semarang agar mengenal juga tentang situasi yang berbeda. Umat yang hadir baik yang tua, muda maupun anak-anak sungguh banyak, sehingga rumah penuh sesak. Namun begitu saya dan keluarga sungguh bersyukur atas perhatian, kerelaan dari umat dan para Bruder komunitas Candi dan Muntilan yang hadir untuk mendukung doa-doa untuk ayah yang genap seribu hari dipanggil Tuhan. Ini merupakan suatu rahmat dan kebahagiaan bagi kami sekeluarga.
Kotbah Romo Samuel diganti dengan sharing pengalaman iman yang saya ungkapkan berkaitan dengan pribadi Bapak serta tak lupa juga sebagai sarana untuk mengenalkan hidup bakti sebagai Bruder FIC secara khusus dan hidup membiara secara umum kepada anak-anak dan remaja yang hadir dalam misa tersebut. Saya sungguh bersyukur boleh memiliki, mengenal, merasakan serta hidup bersama dengan sentuhan kasih dari Bapak saya. Lewat beliau saya banyak belajar nilai-nilai kehidupan yang beliau tunjukkan, hayati dan teladankan untuk kami sekeluarga. Sehingga saya bisa sampai seperti sekarang ini. Nilai kejujuran dan kesederhanaan yang beliau tunjukkan menjadi warisan berharga untuk saya hidupi, saya kembangkan dan perjuangkan terlebih di dalam hidup harian saya sebagai Bruder FIC, baik di Komunitas, maupun di dalam karya perutusan saya.
Beliau sudah menyelesaikan pertandingan dan memperoleh garis akhir kebahagiaan untuk bersatu dengan Bapa di surga. Akhirnya saya hanya bisa selalu berdoa dan berharap semoga beliau juga selalu mendoakan saya yang masih hidup dan berjuang dalam peziarahan di dunia ini agar nantinya juga layak dan pantas bersatu dengan Bapa di surga. amin.

Wednesday, January 28, 2009

Jalin Persaudaraan Pengurus

Kabut tebal menghiasi kota Semarang sehingga mentari pagi masih enggan menampakkan diri dari peraduaannya. Namun begitu tidak menyurutkan niat kami para pengurus IKHRAR (Ikatan Karya Dan Hidup Rohani Antar Rohaniwan/Rohaniwati)Rayon Semarang yang terdiri dari Suster, Bruder dan Romo ( Suster OSF, PI, AK, Bruder FIC dan Romo MSF) sudah mulai beraktifitas bersama dengan mengadakan kunjungan ke tempat keluarga dan berziarah bersama. Rombongan satu Bis kecil yang berjumlah 20 orang meluncur dari Semarang ke arah Selatan menuju daerah Wonosari- Gunung Kidul. Meskipun cuaca pagi tidak begitu bersahabat namun sepanjang perjalanan begitu lancar, tanpa suatu kendala apapun hingga kami sampai ditujuan yang pertama yaitu daerah S - Wonosari ke tempat orang tuanya Sr. Emmanuela OSF dengan selamat. Setelah bertegur sapa berbagi cerita dan berdoa bersama sehingga dapat memberikan suatu dorongan dan dukungan kepada kami semua. Setelah itu dilanjutkan dengan jamuan makan siang kas masyarakat desa.

Selesai dari perhentian pertama perjalanan dilanjutkan kembali ke tempat orang tuanya Br. Hans Gendut FIC. Setelah istirahat sejenak melepas lelah, acara dilanjutkan dengan misa bersama dengan anggota keluarga Br. Hans. Misa dipersembahkan oleh Romo Santoso MSF. Ujud misa secara khusus memohon kekuatan serta kesembuhan untuk Bapak Radiyo ( ayah dari Br. Hans) yang sedang menderita sakit.

Kemudian perjalanan dilanjutkan kembali untuk mengadakan peziarahan di Gua Maria Tritis dan berakhir dengan rekreasi bersama di Pantai Baron.
Dari pengalaman singkat tersebut saya dapat bersyukur boleh mengalami suatu perjumpaan dengan rekan-rekan seperjalanan panggilan juga perjumaan dengan anggota keluarga yang dikunjungi. sehingga dapat saling memberi dukungan dan kekuatan dalam menjalani hidup khususnya pada diri saya sebagai Bruder FIC.

Tuhan memberkati... Amin

Wednesday, December 31, 2008

Memaknai Natal di Tempat Terpencil


Ada berbagai macam cara dan ragam kegiatan dalam menyambut hari kelahiran Sang juru selamat Yesus Kristus. Ada yang menyambut dan merayakan dengan hingar bingar dan meriah, namun ada juga yang merayakannya dengan sangat sederhana. Kami para bruder muda angkatan 2006 pun mencoba untuk memaknai Natal dengan cara yang lain.

Bermula dari obrolan ringan dalam suatu pertemuan kemudian timbul ide untuk merayakan Natal bersama di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk keramain kota. Kamipun lalu sepakat memilih Paroki Danan Giriwoyo untuk merayakan Natal bersama.

Pada hari Rabu, 24 Desember 2008 kami bertujuh (Br. Galih, Br. Vembri, Br. Juadi, Br. Darta, Br. Andre Djoko, Br. Roman Ndruru dan Br. Agus Parno) berkumpul di Komunitas Klaten untuk memulai perjalanan. Tepat pkl. 09.00 wib kami berangkat bersama-sama menuju Giriwoyo. Tepat pkl 12.00 wib tiba di komunitas Bruderan FIC Giriwoyo dengan selamat dan disambut oleh Br. Ignatius Wakidi dengan hangat dan ramah. Setelah istirahat sejenak lalu diajak untuk makan bersama. Kemudian sore hari mengenang masa-masa saat kami menjalani stage dengan mengunjungi para keluarga yang dipergunakan sebagai tempat tinggal pada saat menjalani stage. Kamipun disambut dengan ramah oleh para keluarga tersebut.

Pada malam harinya kurang lebih pkl 19.00 wib berangkat ke Gereja Danan untuk merayakan misa malam Natal. Meskipun di desa namun umat cukup antusias dalam mengikuti perayaan Ekaristi tersebut. Alunan gendhing dan lagu Jawa demikian syahdu dan tertata secara apik.Sehingga menambah kidmat dalam seluruh rangkaian perayaan Ekaristi tersebut. Dalam homilinya Romo mengajak kepada seluruh umat Paroki Danan khususnya pada diri kaum muda untuk semakin terlibat dalam kehidupan menggereja. Dengan kelahiran sang juru selamat semakin menyemangati untuk semakin memberikan diri dalam kehidupan menggerejanya. Perayaan Ekaristi berakhir hingga pukul 21.30 wib.

Keesokan harinya kami melanjutkan kunjungan ke keluarga-keluarga yang dahulu dipergunakan untuk tempat tinggal saat menjalani stage. Ada tiga yang masih harus kami kunjungi. Kemudian sekitar pkl 11.00 wib kami meninggalkan Giriwoyo lalu menuju Paranggipito untuk rekreasi bersama. Tempat yang dituju adalah Pantai Sembukan. Sebuah pantai selatan yang masih alami dan belum dijamah tangan-tangan jail sehingga cukup memberikan keindahan tersendiri bagi orang-orang yang berkunjung menikmati keindahan alam dan laut. Tepat pkl 13.00 wib kami meninggalkan Pantai Sembukaan untuk melanjutkan perjalanan pulang ke Komunitas kami masing-masing.

Dari peristiwa dan pengalaman kecil ini kami dapat berbagi cerita, sharing saling mendukung dan menguatkan dalam menjalani panggilan hidup bakti sebagai Bruder FIC sehingga diharapapkan akan selalu setia dalam proses panggilan ini. Tuhan memberkati***


Saturday, December 13, 2008

"Sepenggal Ungkapan Hati"

Berangkat dari motivasi yang sama dengan latar belakang keluarga, pendidikan,budaya, bahasa dan adat istiadat yang berbeda, empat Jawa, dua Sumatera, satu Papua dan satu Nias, akhirnya sejak tahun 2003 hingga tahun 2006 kami dipersatukan oleh Tuhan dalam menjalani suatu masa pembinaan awal, di Postulat, Novisiat Kanonik serta Novisiat Lanjutan. Suka duka selalu mengiringi dalam perjalanan peziarahan hidup kami. Pengalaman jatuh, terpuruk namun dengan kemauan yang teguh untuk bangun kembali sehingga dapat menempa diri kami untuk meneruskan perjalanan panggilan kami. Sampai pada akhirnya harus menjalani tugas perutusan di suatu karya dan komunitas yang berbeda -beda. (Si sulung Widyo di Yayayasan Pangudi Luhur Pusat, Komunitas St. Vincentius-Randusari-Semarang, Si bikin humor Andre Djoko,komunitas Maria Medriatrix- Klaten, si bungsu Galih Hartanta-RR Syalom Bandungan, si kalem FX Darta menemani anak muda di SMP PL Bintang Laut, komunitas St.Josef-Surakarta, si penulis ulung Justinus Juadi, komunitas St Fransiskus Xaverius Senopati-Yogya, Roman Ndruru-komunitas St. Fransiskus Xaverius Senopati Yogya, Valen Vembri Kepala Asrama di komunitas Tanjung-Kalimantan Barat dan Agus Parno di Komunitas Provinsialat Wisma Bernardus- Semarang)
Semoga Tuhan selalu mengiringi perjalanan hidup kami hingga mencapai peziarahan yang terakhir.
Tuhan memberkati .
Amin.

Wednesday, November 26, 2008

Perjalanan Pagi Itu

Pagi itu matahari belum menampakkan sinarnya. Kami para bruder komunitas Wisma Bernardus Semarang sudah memulai aktifitas hariannya, doa pagi bersama dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi, yang dipersembahkan oleh seorang Romo MSF.

Selesai misa pagi bergegas menuju kamar untuk mempersiapkan diri menempuh perjalanan panjang ke Komunitas Sedayu Yogyakarta. Secepat kilat mengambil kunci motor super cup merah tahun 1981. Motor kupacu sesuai dengan keadaannya, mengingat sudah usur sehingga perlu suatu kesabaran dan kehati-hatian yang tinggi. Sesampai di Komunitas Ambarawa berhenti sejenak untuk mendinginkan mesin sembari bersua dengan para bruder yang ada di komunitas tersebut, perjalanan Semarang Ambarawa harus kutempuh dengan waktu 2 jam, tak menjadi soal yang penting diri selamat dan motor tetap jalan dan dapat melanjutkan sampai tujuan. Setelah selesai melepas lelah dan "ngedemke" mesin perjalanan kulanjutkan kembali.


Cuaca di sekitar Ambarawa tidak begitu bersahabat, hujan rintik-rintik membasahi dan mengiringi perjalananku. Kendaraan lalu-lalang padat merayap, sehingga motor kupacu dengan sangat hati-hati. Sesampai ditanjakan sekitar Coffeeva motor sedikit rewel, dan ngadat akhirnya macet.Kucoba untuk bersabar, menentramkan diri sambil menepi untuk melihat ada apa gerangan pada diri motor tersebut. Bensin habis tak mungkin karena baru saja kuisi kembali, mesin panas, saya kira juga nggak lha wong baru saja berhenti dan beristirahat lama. Motor kucoba hidupkan kembali dan puji Tuhan berhasil, perjalanan akhirnya dapat kulanjutkan kembali hingga sampai di Komunitas Sedayu Yogyakarta dengan selamat tanpa gangguan apapun.

Kunci dan STNK segera kuserahkan kepada si empunya motor. Mengingat sudah beberapa hari motor tersebut berada di Semarang untuk urusan pajak dan nomor kendaraannya. Sehingga bruder yang saban hari memakai motor tersebut menjadi senang, sudah diantarkan sampai di komunitas sehingga dapat dipergunakan sebagai penunjang karya kerasulannya.




Friday, October 17, 2008

Perjalanan Rohani di Hari Nan Fitri

Setiap tahun menjelang lebaran pesona mudik begitu luar biasa. Orang-orang berbondong-bondong kembali ke Kampung halaman dengan daya juang yang tinggi untuk dapat berkumpul dan bersilahturahmi dengan orang tua dan sanak saudaranya.Tradisi lebaran, dan saling mengunjung sanak saudara masih begitu kental di dirasakan hingga saat ini.

Pada kesempatan liburan lebaran ini pula kami para bruder komunitas Don Bosko dan Wisma Bernardus Semarang, juga berkesempatan mengadakan kunjungan kepada keluarga bruder.
Ada lima keluarga bruder yang kami kunjungi yaitu keluar Br. Frans Kasiya di Klaten, keluarga Br. Aretas di Prambanan, keluarga Br. Herman Yosef di Gendol dan Ngluwar serta keluarga Br. Edelwaldus di Muntilan.

Tujuan dari kegiatan ini antara lain untuk semakin dapat mengenal keluarga dan sanak saudara bruder yang ada di kampung halaman, dan semakin meningkatkan tali kasih persaudaraan diantara bruder dalam komunitas maupun dengan sanak saudara yang dikunjunginya, sehingga sungguh-sungguh menjadi saudara satu dengan yang lain.

Tuesday, September 23, 2008

Peranan Allah Dalam Hidup Sehari-hari

Menyadari akan peranan Allah dalam hidup sehari-hari dapat membangkitkan semangat baru dan menimbulkan serta membangkitkan rasa syukur dalam hati setiap orang.
Tetapi sebaliknya apabila kurang menyadari nya orang mudah dihinggapi perasaan takut, kawatir gelisah/tak menentu. Perasaan semacam itu dapat dimngerti karena tantangan hidup zaman ini nampaknya semakin besar dan berat. Dalam keadaan demikian banyak orang yang mencari dukungan dari hal-hal yang dianggap bersifat materi, yang dapat dianggap akan memberikan rasa aman dan menjamin hidup serta usaha-usahanya.
Saya sendiri juga tentu ingin menyadari akan peranan Allah dalam kehidupanku. Hanya yang menjadi persoalan adalah bahwa dalam kesibukan sehari-hari terkadang tidak selalu mampu untuk menyadari akan peranan Allah dalam hidupku.