
Tuesday, May 25, 2010
RELIGIUS LANSIA BERBAGI CERIA

Wednesday, April 28, 2010
Live in and Promo
Koordinator Tim kerja Promosi Panggilan Paroki Sendangguwo Semarang,mengadakan promosi panggilan untuk kaum muda dan remaja. Pada hari sabtu, 24 April 2010 acara dikemas dalam bentuk Live In di keluarga dan sarasehan di Lingkungan/wilayah se Paroki St.Paulus Sendangguwo.Dalam kesempatan tersebut sayapun melibatkan diri dalam gerak laju Kongregasi untuk mewartakan
dan memperkenalkan Kongregasiku FIC. Sore pk 17.30 wib sampai di Paroki Sendangguwo, tak lama kemudian di jemput oleh pengurus lingkungan untuk diantar kerumah Bapak Susilohadi yang dipergunakan untuk bermalam sekaligus tempat sarasehan lingkungan Alexander-Pucanggading. Sarasehan dimulai pada pk17.30 hingga berakhir pada pk 22.30 dengan santab malam bersama. Sarasehan kuisi dengan perkenalan singkat tentang diri saya, tugas-tugas yang saya emban serta gambaran umum tentang panggilan serta panggilan sebagai bruder FIC,serta tanya jawab berkaitan dengan panggilan hidup.Dalam Perayaan Ekaristi hari Minggu homili diisi dengan Dialog Interaktif yang menampilkan para Bruder, Suster , Frater. Setelah Ekaristis selesai kemudian dilanjutkan dengan sarasehan untuk memperkenalkan secara lebih detail mengenai tarekat atau Kongregasi kepada para Putra-putri altar.
Dalam kegiatan ini hadir dari beberapa tarekat/kongregasi antara lain dari FIC, CSA, PI, AK, PMY, OSF, BKK, dan Frater TOR Praja KAS.Sedangkan para Bruder FIC yang terlibat adalah Br. Anton Widianto dari Komunitas Klaten, Br. Selastinus Hermianto dan Br. Blasius dari Komunitas Salatiga, Br. Ari, Apelabi, Br. Hartoko , Br. Ignatius Wasiaji dan saya dari Komunitas Candi.
Monday, November 30, 2009
Malam Itu
Friday, October 23, 2009
TEMU BRUDER MUDA DAN CALON
Temu kenal Bruder Muda dan para Calon diadakan di SMK PL Leonardo - Klaten pada hari Sabtu-Minggu tanggal 10 s.d. 11 Oktober 2009. Hadir dalam pertemuan ini, kecuali para bruder muda dan para frater postulan, novis kanonik, dan novis lanjutan, juga hadir Br. Provinsial, beberapa pendamping bruder muda dan pendamping calon. Pada hari pertama para bruder muda dan para frater diajak untuk berkenalan lewat permainan dan ekspresi. Setiap regio serta para Postulan, Novis Kanonik dan Novis Lanjutan menampilkan atraksi, yel-yel dll. Ada yang menampilkan drama, gerak dan lagu, puisi, nyanyian dll. Ini semua bertujuan untuk saling mengakrabkan diantara para bruder muda sendiri dengan para calonnya. Selesai pentas dan atraksi ditutup dengan doa yang dipimpin oleh para Frater Postulan.Dalam pertemuan ini para bruder muda dan frater diajak untuk lebih memahami tentang peran dan fungsi keimanan para bruder dan frater dalam hidup panggilannya di tengah arus zaman ini. Disadari bahwa kehidupan iman berpengaruh dalam proses panggilan hidup sebagai bruder maupun sebagai calon bruder. Maka pada hari Minggu sebagai agenda utamanya mendalami penghayatan akan iman dalam hidup panggilan sebagai bruder FIC. Dihadirkan juga Br. Herman Yoseph Sagiman Seno Susilo sebagai nara sumber. Br. Herman menyampaikan sharing dan pengalamannya menjalani kehidupan panggilannya sebagai bruder. Bahwa penghayatan iman pada zaman sekarang ini sungguh berbeda dengan jamannya, maka yang terpenting adalah mempunyai prinsip dan pegang komitmen. Beliau juga menyadari bahwa dalam perjalanan hidup panggilannya tidaklah selalu mulus. Ada juga onak duri yang menghiasi perjalanan hidupnya. Maka yang terpenting adalah untuk selalu refleksi, bahwa menjadi bruder FIC itu untuk mencari siapa? yaitu mencari Yesus sendiri untuk meneladan sikap hidupnya dengan memberikan pelayanan bagi sesama, ungkap bruder yang saat ini menjalani karya perutusan sebagai koordinator dan kepala sekolah SD Pangudi Luhur St. Yusuf Semarang ini. Di penghujung pertemuan ditutup dengan peneguhan dari Bruder Provinsial. Dalam peneguhannya Br. Provinsial mengucapkan selamat dan berterima kasih kepada para bruder muda dan frater yang masih mempunyai semangat. Dengan energi dan semangat yang dimiliki akan berguna bagi pelayanannya untuk sekarang dan yang akan datang. Menyadari bahwa kaum muda sekarang sudah berbeda dari orang muda zaman dahulu namun yang terpenting adalah nilai-nilai keimanannya tetap dijunjung tinggi, diperhatikan dan dipertahankan sehingga tidak hanyut dalam gerak dan arus zaman yang menantang kita semua sebagai orang yang terpanggil khususnya menjadi bruder dan calon bruder FIC. Dalam pertemuan ini juga para bruder muda dan para frater nampak ada suatu usaha yang sungguh-sungguh untuk datang dalam pertemuan ini, mempersiapkan segala sesuatunya untuk ekspresi dll.Ini menunjukkan bahwa bruder muda masih mempunyai semangat dan menunjukkan kehidupannya. Setelah itu ditutup dengan Perayaan Ekaristi bersama yang dipersembahkan oleh Rm. Sutrasno Pr, dari Paroki St. Maria Asumta Klaten . Dalam homilinya Rm. Trasno menekankan pentingynya membangun kualitas hidup yang bermutu. Dengan membagi kebahagiaan secara utuh pula. Untuk mencapai keberhasilannya sehingga menjadi utuh dan penuh perlu untuk berbagi apa yang dimilikinya, bakat, kemampuan dll. Kemudian setiap religius di zaman sekarang juga perlu membangun suatu militansi di tengah arus zaman ini. Sehingga sungguh-sungguh menjadi saksi, yaitu saksi kebaikan, kesungguhan, tanggung jawab maka untuk mencapai semua itu perlu suatu latihan yang terus menerus dengan penuh kesetiaa.**Tuesday, September 15, 2009
Semangat Iman Kaum Muda Yang Menggerakkan
Kehidupan Iman tidak hanya sebatas diungkapkan lewat ungkapan kata-kata saja namun diimplementasikan dalam wujud yang nyata dalam kehidupan sehari-hari, meskipun dalam hal-hal yang kecil dan sederhana. Sebagai kaum muda yang masih enerjik, mempunyai semangat yang tinggi dalam segala bentuk aktifitas diharapkan dapat menjadi daya dorong untuk dapat menggerakkan teman-temannya yang lain yang masih enggan untuk menjalani kegiatan bersama dalam lingkungan kampus. Selain itu sebagai orang yang beriman Kristiani diharapkan dapat menggali sang sumber semangat iman dari Yesus Kristus sendiri yaitu semangat untuk melayani atau serve. (Spiritual gift, Experience, Relation Style, Vocational skill and Enthusiation. Hal tersebut yang di ungkapkan oleh Rm. Dony dari Paroki St. Athanasius Agung Karang Panas dalam perayaan ekaristi awal tahun perkuliahan di unit kegiatan mahasiswa PKKMK Universitas Dian Nuswantoro Semarang beberapa waktu yang lalu. Rm. Dony juga mengungkapkan serta mengajak kepada para mahasiswa yang hadir dalam perayaan ekaristi tersebut untuk meneladan sifat-sifat yang dimiliki oleh Yesus yaitu kasih, kemampuan untuk belajar, penghiburan, peka, semangat, mad (make a diference) lain daripada yang lain. Dengan begitu, semangat iman khususnya iman Kristiani yang yang dimiliki oleh para mahasiswa dalam wadah PKKMK ini yang dilihat dari segi kuantitas hanya segelintir saja namun sungguh-sungguh dapat menjadi garam dan terang bagi orang lain dan lingkup yang lebih luas.**semoga.
Wednesday, September 2, 2009
Rekoleksi Komunitas
Hari Sabtu sore pk. 17.00 diawali denga ibadat pembukaan dilanjutkan dengan pembahasan materi yang berkaitan dengan prasetia khususnya yang menyangkut tentang prasetia ketaatan. Kemudian dilanjutkan dengan refleksi pribadi hingga esuk pagi menjelang perayaan ekaristi. Lalu minggu siang dilanjutkan dengan sharing bersama.Wednesday, August 19, 2009
Memaknai Kemerdekaan
Kita sadar bahwa amanat Kerajaan Allah belum sepenuhnya terwujud di negeri kita tercinta ini. Ini yang sungguh menjadi tantangan bagi kita semua sebagai bagian dari komponen bangsa untuk ikut ambil bagian dalam dalam mengisi kemerdekaan dalam bentuk apapun sesuai dengan bakat dan talenta kita masing-masing. Dalam pembinaan moral dan iman, kita dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam menegakkan Kerajaan Allah dalam masyarakat yang secara politis sudah merdeka selama 64 tahun, namun secara moral dan iman belum merdeka. Masih banyak hal yang membutuhkan kesaksian kita. Antara lain adalah orang makin mementingkan diri sendiri. Orang berlomba mencari kuasaan dan harta tanpa peduli terhadap orang lain. Jurang antara yang berkuasa, kaya, dan yang lemah, dan orang tak punya semakin menganga lebar.
Kemerdekaan hanya terwujud, kalau manusia merdeka, lepas bebas dari pamrih, kehendak sendiri dan kepentingan sendiri, seperti dikatakan Paulus: “sebab oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah” (Roma 10:3). Kemerdekaan tanpa pamrih, kehendak dan kepentingan sendiri, merupakan panggilan pribadi setiap manusia, “saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, malainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih” (Gal. 15:13).
Lewat kemerdekaan ini, kita dibebaskan dari dunia, dari nafsu, dari daging seperti tuturan Santo Paulus, “tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jikalau memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan miliki Kristus” (Roma 8:9). Dengan kemerdekaan ini, manusia menjadi budak cinta atau hamba Tuhan dalam pengabdian suci untuk menjadi pelayan untuk semua manusia. Lagi dikatakan Paulus, “hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan seperti mereka yang menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan-kejahatan mereka, tetapi hiduplah sebagai hamba Tuhan” (1Petrus 2:16).
Kemerdekaan dalam Yesus amat bermakna, karena Yesus sendiri memberi teladan merdeka dari segala pamrih. Ia memanggil manusia secara pribadi, untuk memiliki Roh kemerdekaan, yaitu Roh Anak Allah yang mengatur hidup manusia, agar manusia merdeka dari dunia, nafsu dan daging serta agar manusia dikuasai oleh cinta demi pelayanan kepada sesama. Pendek kata, manusia dimerdekakan dari perbudakan supaya hanya diperbudak oleh cinta, yaitu Allah sendiri.
Kita semua diberi kemerdekaan untuk berbuat. Kita berhak atas segala tindakanya. Kita harus tumbuh dalam kematangan dalam kebenaran dan kebaikan karena kemerdekaan. Kemerdekaan kita akan mencapai kesempurnaan bila terarah kepada Allah. Kemerdekaan akan mewarnai perbuatan kita sehingga sungguh manusiawi. Karena, Tuhan telah menjadikan kita bertanggung jawab atas segala perbuatan yang dikerjakan dengan kehendak bebasnya. Meskipun demikian, kelemahan kita, keterbatasan, ketidaktahuan, perasaan takut dan segala faktor psikis atau sosial yang lain tetap dapat mengurangi atau menghilangkan kemerdekaan dan tanggung jawab kita atas suatu perbuatan. Kemerdekaan kita terbatas dan dapat salah karena kelemahan kita, karena ketidak mampuan untuk mengarahkan kepada yang ilahi.
Kemerdekaan yang kita alami tidak dapat lepas dari pihak lain. Kemerdekaan bukan berarti bisa berbuat seenaknya. Kita harus memperhatikan unsur-unsur lain dalam hidup bersama, terutama harus selalu mengarah kepada yang Illahi. Hanya ada satu hal penting yang tidak menghalangi kemerdekaan manusia, ialah Rahmat Tuhan. Justru dengan rahmat itu kita mampu hidup sesuai dengan kebenaran dan kebaikan yang telah diletakkan Allah dalam hati kita. Rahmat selalu membantu kita untuk hidup selaras dengan kehendak Tuhan.(SE Agustus 09)
Friday, May 8, 2009
Panggilan Hidup Bakti
Panggilan hidup merupakan ajakan untuk bergerak sebagaimana mestinya sebagai mahkluk ciptaan Allah. Panggilan hidup merupakan sebuah tawaran dari Allah agar umat-Nya berani dan mau terlibat dalam menghidup kembangkan karya ciptaan-Nya. Ada banyak tawaran hidup yang harus kita pilih. Istilah umum yang sering kita dengar adalah hidup berkeluarga dan hidup membira. Tentang hidup berkeluarga sudah sangat jelas dan umum telah dipilih oleh hampir sebagaian besar manusia. Namun dalam tradisi Katolik ada suatu corak hidup yang lain yang dipilih oleh sebagian orang, yaitu corak hidup bakti dengan menjadi biarawan/biarawati. Mereka inilah orang-orang yang tertangkap oleh Kristus dan mau membaktikan hidupnya bagi Gereja.Di dalam Vita Consecrata art.1 dikatakan bahwa “ Di setiap masa ada orang-orang pria maupun wanita yang mematuhi panggilan Bapa dan dorongan Roh Kudus dan memilih cara khusus itu dalam mengikuti Kristus, guna membaktikan diri kepada-Nya dengan hati yang tak terbagi. Seperti para rasul, merekapun telah meninggalkan segala sesuatu untuk menyatu dengan Kristus dan seperti Dia mengabdikan diri kepada Allah serta kepada saudara-saudari mereka. Begitulah, melalui sekian banyak kharisma hidup rohani dan kerasulan, yang dianugerahkan kepada mereka oleh Roh Kudus, mereka membantu menjadikan misteri dan misi Gereja memancarkan sinar dan dengan demikian berperan serta demi pembaruan masyarakat.
Di Indonesia ada beberapa kongregasi bruder dan frater dengan jumlah anggota yang bervariasi. Disamping itu ada juga kongregasi, tarekat atau ordo yang terdiri dari Imam dan Bruder. Setiap kongregasi mempunyai jenis karya kerasulan masing-masing sesuai dengan kharisma/semangat awal para pendiri kongregasi mereka. Kongregasi Bruder FIC yang didirikan pada tahun 1840 di Maastricht Belanda, diwarnai oleh karya utama pendidikan dan pengajaran serta pembinaan bagi kaum muda. Hal ini karena Pastor Ludovicus Rutten, pendiri kongregasi para bruder FIC pada awalnya tergerak hatinya oleh kaum muda di Maastricht Belanda pada waktu itu.
Wednesday, May 6, 2009
Promosi Panggilan dengan Ber Live-in

Situasi Desa yang kami tempati dengan pola kehidupan yang kental dengan bertani dan bercocok tanam serta ikatan masyarakat yang kuat dengan paguyuban dan kekeluargaanya. Selain itu program live in ini dipergunakan sebagai sarana untuk lebih dekat dengan umat untuk memperkenalkan panggilan kami sebagai Bruder FIC .
Untuk menyambut hari Minggu Panggilan pada tahun 2009 ini saya mendapat undangan untuk mengikuti kegiatan live in di Paroki Keluarga Kudus Parakan-Temanggung. Sasaran yang hendak dicapai dengan memilih kegiatan ini adalah untuk memperkenalkan suatu pilihan hidup panggilan sebagai Suster, Bruder, Frater dan Romo kepada umat. Dengan begitu umat/orang tua mempunyai kesadaran untuk ikut bertanggung jawab terhadap perkembangan Gereja dengan memperkenalkan suatu pilihan hidup khususnya menjadi Biarawan/wati kepada putra-putrinya.
Panitia mengundang beberapa aneka tarekat dan kongregasi yang terdiri dari Suster, Bruder dan Frater diantaranya dari Yogyakarta, Semarang, Purworejo, Magelang, Muntilan dan Parakan - Temanggung sendiri tentunya. Para peserta disebar dibeberapa wilayah di sebuah keluarga Katolik diantaranya wilayah Parakan kota, wilayah, Ngadirejo, Karanggedong, Payung gunung , Candiroto, Mangunsari dan Kebondalem.
Penduduk wilayah Candiroto yang saya tempati sebagian besar orang-orang tua dan anak-anak kecil dan sebagian baru menginjak remaja . Dan keluarga yang saya tempati tidak asing dengan sosok seorang Bruder karena pernah mengenyam pendidikan yang dikelola oleh para Bruder FIC beliau adalah Bapak F. Tukidi yang lulus SPG Pangudi Luhur Kidul Loji tahun 1985, yang sekarang mengajar di salah satu SD Negeri di dekat tempat tinggalnya. Disamping itu beliau juga menyediakan waktunya untuk kegiatan dan pelayanan gereja, terbukti dengan beberapa tugas yang pernah diterimanya. Pernah menjadi pamong wilayah, menjadi Prodiakon Paroki serta saat ini menjabat sebagai Dewan Paroki Keluarga Kudus Parakan. Semua itu dilakukan dengan ikhlas dan murah hati demi pemberdayaan dan pengembangan umat di wilayahnya. ” Saya senang kalau umat katolik di wilayah ini guyup, dan rajin berdoa” demikian yang beliau ungkapkan saat mengadakan sharing keluarga.
Pada malam hari para peserta live in diajak untuk sarasehan dan sharing bersama, umat ataupun keluarga yang ditempatinya. Kemudian hari Minggu pagi pk. 08.00 diadakan Misa bersama seluruh umat di wilayah tersebut dengan seluruh peserta live in.
Kotbah dari Romo diganti dengan sharing panggilan serta memperkenalkan tarekatnya masing-masing. Kemudian setelah misa selesai dilanjutkan dengan ramah-tamah dan dilanjutkan dengan sarasehan bersama umat.
Semua peserta yang terdiri dari Bruder MTB, Bruder FIC, Suster OSF, Suster PI ,Suster PBHK dan para siswa Seminari Mertoyodan membagikan pengalamannya berkaitan dengan panggilannya serta memperkenalkan tarekatnya masing-masing.
Pada penghujung acara Br.Baptista MTB memperkenalkan serta mempraktekkan cara pembuatan pupuk organik, sehingga umat cukup antusias untuk mengikutinya.
Pemahaman
Kemudian apa yang dicari para bruder, suster dan frater ditempat live in tersebut? Kebanyakan orang berpikir bahwa panggilan hidup dengan menjadi biarawan/wati hanya untuk orang-orang tertentu saja. Padahal kenyataannya tidak demikian. Bahwa semua umat beriman dipanggil oleh Allah untuk memperoleh kekudusan, apapun bentuknya. Hanya tinggal bagaimana setiap pribadi tersebut mau atau tidak menanggapi sapaan dan ajakan dari Allah sendiri. Keistimewaan dipilih Tuhan menjadi biarawan/wati atau orang sukses adalah karena kita mampu melengkapi diri dengan pengalaman dan terlebih mau dan mampu menanggapi tawaran dari Allah sendiri. Dengan keyakinan dan nilai-nilai iman, moral, nilai sosial yang diperoleh dari belajar tentang kehidupan yang sebenarnya. Karena kita sebenarnya serba terbatas serba lemah, maka kita harus memiliki keyakinan tentang nilai kehidupan yang mulia, tentang tujuan hidup yang tidak hanya sebatas pada nilai duniawi semata tetapi juga mempunyai nilai hidup yang mempunyai tanda eskatologis bagi sesamanya.
Maka dengan kegiatan pengenalan diri oleh para suster, bruder dan frater dalam program Live in di Parakan ini, diharapkan akan terbangun suatu kesadaran dan wawasan baru bagi orang tua untuk mengarahkan anaknya ke jalan panggilan Tuhan. Juga terbangun suatu wawasan pada diri anak bahwa panggilan itu tidak hanya terbatas pada hidup berkeluarga namun ada suatu corak dan pilihan hidup yang khusus yang dimiliki oleh Gereja Katolik.
Manfaat bagi peserta live in(Suster, Bruder, Frater)
Dengan memberikan introduksi keadaan tempat live in berupa wilayah dan keluarga yang ditempati, diharapkan para suster, bruder, frater siap terjun dan menyatu dengan masyarakat di dalam karya dan perutusannya terlebih untuk tarekat atau kongregasi yang aktif apostolik. Sasaran lainnya, para suster, bruder, frater diintegrasikan dengan tinggal bersama dengan keluarga minimal mampu menyelami kehidupan yang lebih luas yang berbeda dengan lingkungan komunitas atau biaranya. Sasaran lebih jauh , para suster, bruder, frater bisa menemukan apa hakekat kehidupan. Bagaimana sikap keimanan yang kuat dari orang-orang desa, menjadi orang yang sabar, tetapi tidak mudah menyerah.
Dengan mengikuti kegiatan live in para suster, bruder, frater juga diharapkan menjadi orang yang harus mampu mengatasi keadaan dengan tekun dan ulet. Juga menciptakan kehidupan bermasyarakat dengan saling memberi dan menerima dengan pola kerukunan yang menjunjung rasa kebersamaan, persaudaraan, jauh dari sikap egois dan menang sendiri. Sehingga dengan perilaku yang positif tersebut diharapkan mampu untuk menggerakkan hati orang-orang muda mengikuti jejaknya dengan menjadi suster, bruder, frater maupun romo.* SEMOGA!
Sunday, May 3, 2009
Bahagia Menjadi Saksi Kristus
Di Doamu Namaku Disebut, begitulah tema yang diangkat dalam pertemuan para orang tua yang putra-putrinya dipanggil menjadi Suster, Bruder dan Romo. Acara yang diprakarsai oleh IKHRAR Rayon Semarang tersebut dilaksanakan pada tanggal 25-26 April 2009 di Rumah Retret Griya Paseban Semarang. Acara dikemas dalam bentuk Rekoleksi yang diawali dengan wawanhati bersama dengan Mgr. Ignatius Suharyo Uskup Keuskupan Agung Semarang. Dalam kesempatan wawanhati ini Mgr. Ignatius Suharyo membagikan gambar kepada para peserta yaitu sepasang suami istri yang diangkat sebagai beato dan beata pada tanggal 21 Oktober 2005. Mereka adalah orang pertama yang menjadi orang kudus pasangan suami istri. Bahwa jalan kekudusan bukan saja hanya dimiliki oleh para rohaniwan dan biarawan/wati saja, namun semua orang di panggil untuk menjadi kudus. Mereka ini menjadi suci karena mereka melakukan hal-hal yang biasa, tetapi dengan cara yang luar biasa. Luar biasa karena hidupnya selalu menimba kekuatan dari sabda Allah dan berbahagia dalam menghayati hidup panggilannya. Kemudian setelah selesai acara wawanhati dan tanya jawab acara dilanjutkan dengan perayaan ekaristi yang juga dipimpin oleh Bapak Uskup dengan didampingi oleh Rm. Santoso MSF. Dalam homilinya Mgr. Suharyo mengajak kepada para orang tua terpanggil tersebut untuk bersemangat dalam memberi kesaksian tentang hidupnya kepada Allah sang pemberi segalanya. Bahwa kesaksian tentang Allah dimana-mana dibutuhkan, terlebih ditempat yang tepencil, sepi dan sulit. Mgr Suharyo berharap, kepada bapak-ibu yang hadir dalam pertemuan ini untuk tidak usah ragu-ragu jika anak-anaknya yang menjadi Suster, Bruder dan Romo jika ditempatkan ditempat yang terpencil, sulit, dan sepi. Mereka itu menjadi saksi Kristus, dan memperoleh kebahagiaan juga dengan segala macam karya yang dijalaninya untuk orang lain.Setelah makan malam kemudian Rm. Eko Yuwantoro MSF, Br. William FIC dan Sr. Goretti OSF membagikan pengalamannya menjalani hidup panggilan yang telah dipilihnya. Romo Eko mengungkapkan bahwa panggilan adalah suatu misteri dalam perjumpaan dengan Allah. Pergulatan dan perjuangan sebagai Romo ditugaskan ditempat yang tidak enak, tetapi tetap bahagia. Tuhan tetap ada dan menjadi kekuatan nya. Pengalaman dalam perjumpaan dengan sesama yang menguatkan.
Kemudian Br. William FIC mengungkapkan pergulatannya sebagai Bruder. Awal panggilan dari keluarga bukan Katolik. Setelah pindah agama lalu di”usir” dari keluarga, lalu tinggal bersama neneknya. Setiap pergi ke gereja harus sembunyi-sembunyi. Suatu saat di”cangking” Romo Belanda, yang terkesan pada saat dipegang kepalanya dan mendorongnya menjadi Katolik. Namun Setelah menjadi Katolik hubungan dengan keluarga menjadi renggang. Namun ia tetap jalan terus dan memutuskan untuk menjadi Bruder FIC. Lain lagi dengan Sr. Goreti OSF. Keinginan untuk menjadi suster jauh sebelum katolik. Pada awalnya melihat seorang suster Belanda saat menyeberang jalan dan menghampirinya lalu tertarik.. Walupun beliau orang Belanda tetapi baik dan ramah.Walaupun selama sepuluh tahun tidak mendapat dukungan dari keluarga., namun Sr. Goreti tetap bahagia dan tidak pernah menyesal menjadi suster karena dengan menjadi suster semua menjadi bisa dan tetap ingin jadi suster yang baik.

Wednesday, April 8, 2009
Mengenang Anggota Keluarga yang Kucintai
Wednesday, January 28, 2009
Jalin Persaudaraan Pengurus
Kabut tebal menghiasi kota Semarang sehingga mentari pagi masih enggan menampakkan diri dari peraduaannya. Namun begitu tidak menyurutkan niat kami para pengurus IKHRAR (Ikatan Karya Dan Hidup Rohani Antar Rohaniwan/Rohaniwati)Rayon Semarang yang terdiri dari Suster, Bruder dan Romo ( Suster OSF, PI, AK, Bruder FIC dan Romo MSF) sudah mulai beraktifitas bersama dengan mengadakan kunjungan ke tempat keluarga dan berziarah bersama. Rombongan satu Bis kecil yang berjumlah 20 orang meluncur dari Semarang ke arah Selatan menuju daerah Wonosari- Gunung Kidul. Meskipun cuaca pagi tidak begitu bersahabat namun sepanjang perjalanan begitu lancar, tanpa suatu kendala apapun hingga kami sampai ditujuan yang pertama yaitu daerah S - Wonosari ke tempat orang tuanya Sr. Emmanuela OSF dengan selamat. Setelah bertegur sapa berbagi cerita dan berdoa bersama sehingga dapat memberikan suatu dorongan dan dukungan kepada kami semua. Setelah itu dilanjutkan dengan jamuan makan siang kas masyarakat desa.
Wednesday, December 31, 2008
Memaknai Natal di Tempat Terpencil

Saturday, December 13, 2008
"Sepenggal Ungkapan Hati"
Wednesday, November 26, 2008
Perjalanan Pagi Itu
Friday, October 17, 2008
Perjalanan Rohani di Hari Nan Fitri
Tuesday, September 23, 2008
Peranan Allah Dalam Hidup Sehari-hari
Tetapi sebaliknya apabila kurang menyadari nya orang mudah dihinggapi perasaan takut, kawatir gelisah/tak menentu. Perasaan semacam itu dapat dimngerti karena tantangan hidup zaman ini nampaknya semakin besar dan berat. Dalam keadaan demikian banyak orang yang mencari dukungan dari hal-hal yang dianggap bersifat materi, yang dapat dianggap akan memberikan rasa aman dan menjamin hidup serta usaha-usahanya.
Saya sendiri juga tentu ingin menyadari akan peranan Allah dalam kehidupanku. Hanya yang menjadi persoalan adalah bahwa dalam kesibukan sehari-hari terkadang tidak selalu mampu untuk menyadari akan peranan Allah dalam hidupku.
Friday, September 12, 2008
Sambut Hari Baru Dengan Doa
Komunitas Wisma Bernardus adalah komunitas baru dimana banyak para bruder yang sudah lansia atau pensiun tinggal dan Saya merasa bersyukur menjadi bagian dan teman perjalanan panggilan dengan para bruder yang sudah lansia tersebut. Hal- hal praktis dalam kehidupan harian saya timba dari mereka yang sudah lansia, khususnya dalam hal rohani sebagai penopang kelangsungan hidup panggilan sebagai bruder FIC. Bersyukur pula bahwa setiap pagi dapat menjalani doa pagi secara bersama-sama dilanjutkan dengan perayaan Ekaristi komunitas.
Thursday, August 28, 2008
Jika Tuhan Mengingatkan
Ada seorang mandor bangunan bekerja di gedung bertingkat. Suatu ketika ia ingin sampai pesan penting kepada tukang di lantai bawahnya. Mandor itu berteriak-teriak memanggil tukang bangunan agar mau mendongak ke atas sehingga ia dapat menjatuhkan catatan pesan. Karena suara mesin-mesin pekerjaan bising, tukang di bawahnya tidak dapat mendengar meski sudah berusaha berteriak lebih keras lagi tetaplah sia-sia saja.
Akhirnya ada ide melemparkan koin uang logam ke depan seorang tukang. Begitu melihat koin uang di depannya, berhenti bekerja sejenak kemudian mengambil uang logam itu, lalu melanjutkan pekerjaannya. Beberapa dicoba lemparkan uang logam, tetapi tetap tidak berhasil membuat tukang di bawahnya mau mendongak ke atas. Tiba-tiba ada ide lain, ia mengambil batu kecil dan melemparkannya tepat mengenai seorang pekerja yang ada di bawahnya. Karena sakit kejatuhan batu, pekerja itu mendongak ke atas mencari siapa yang melempar batu itu. Kini sang mandor dapat menyampaikan pesan penting dengan menjatuhkan catatan pesan dan diterima oleh pekerja di lantai bawahnya.
Untuk menarik perhatian manusia, Tuhan seringkali menggunakan cara-cara yang menyenangkan, namun kadangkala juga dengan pengalaman-pengalaman yang menyakitkan. Tuhan seringkali menjatuhkan “koin uang” atau memberikan kemudahan dan rejeki yang cukup, agar manusia mau mendongak ke atas, memujiNya dan memuliakanNya. Sayangnya, seringkali hal itu tidak cukup membuat manusia bersyukur atas rahmat-Nya dan belum cukup membuat mau memberikan perhatian dan lebih mendekatkan diri kepada-Nya. Karena itu, kadang-kadang menggunakan pengalaman menyakitkan, seperti menerima kegagalan, rasa sakit, kesulitan, musibah, dan berbagai pengalaman lainnya untuk menarik perhatian manusia. Dengan demikian, pengalaman-pengalaman menyakitkan yang kadang kala diterima manusia, hendaknya diterima sebagai peringatan dari Tuhan untuk menarik perhatian . Hendaknya hal itu membuat semakin mempererat hubungan dengan Tuhan, menyadarkan diri sebagai makhluk-Nya.
Sudah begitu banyaknya berkat dan rahmat-Nya kita. Seperti memiliki pekerjaan yang baik, sehat, memiliki mata untuk melihat dunia, punya dua kaki menopang tubuh kita, panca indra lengkap sempurna, rejeki yang cukup, keluarga yang bahagia dan lain sebagainya. Semua itu sesungguhnya adalah berkat dan rahmat Tuhan yang tak ternilai harganya. Sudahkah hal itu menjadikan kita selalu menengadahkan wajah kepada-Nya, mengingat-Nya dan bersyukur atas rahmat-Nya ? Ataukah hal itu belum menarik perhatian kita, sehingga menunggu Tuhan menjatuhkan “batu” kepada kita ?.
_______________________________
Penulis : Eko Jalu S. adalah Penulis Buku “The Art of Life Revolution” dan Buku “Heart Revolution: Revolusi Hati Nurani Menuju Kehidupan Penuh Potensi” keduanya diterbitkan Elex Media Komputindo.